“Cukup!” Gelegar suara Ki Garu Wesi memukul tulang dada peronda. Meski terkejut, bahkan langkah Sabungsari sempat terhenti, ia menduga bahwa lawannya akan mengeluarkan tandang lebih...
Yang kemudian dilakukan Sabungsari adalah memberi tanda kepada pasukannya untuk menyerang Ki Garu Wesi. Ia sudah tidak melihat kemungkinan selain bertempur. Melepaskan diri dari cengkeram...
Ketika ia telah mencapai sebatang pohon untuk menyandarkan punggung, Ki Tunggul Pitu merasakan angin kemenangan begitu dekat. Hanya sejangkauan lengan menurutnya. Meski demikian, ia masih...
Cambuk Agung Sedayu telah membawa gelisah bagi Ki Tunggul Pitu. Meskipun ia tidak lagi berhadapan langsung dengan senapati pasukan khusus, namun kekuatan Agung Sedayu seolah...
“Kematian yang tidak terduga karena serangan kecil selalu menjadi kejutan yang mematikan!” kata Ki Garu Wesi dalam hati. Ia mengabaikan kata curang yang mungkin ditujukan...
Dan begitulah Agung Sedayu. Ia bergerak ke kiri namun ujung cambuknya berputar lalu menghantam melalui sisi sebaliknya. Ketika ia meloncat surut, Agung Sedayu dengan tangkas...
Ibarat perebutan mangsa antar dua kelompok serigala kelaparan. Agung Sedayu menerjang Ki Tunggul Pitu dengan putaran cambuk yang bergulung-gulung. Ia mendatangi lawannya dengan rasa gamang...
“Maaf, Ki Lurah. Saya mengerti tapi sekarang bukan saat yang baik untuk berbeda pendapat,” kata Agung Sedayu menegaskan sikapnya. Kembali ia memandang orang-orang Jati Anom...
Pertimbangan kemanusiaan atau sedikitnya rasa kasihan telah menghilang dari sanubari Ki Hariman. Pria yang bersih dari kumis dan bulu lainnya ini tidak menampakkan sebagai orang...
“Ki Widura telah jatuh. Ia akan roboh sesaat lagi.” Sabungsari sekilas mengamati lingkar perkelahian yang tidak jauh dari tempatnya berkelahi melawan Ki Tunggul Pitu. Pada...