Bab 4 Kiai Plered

Kiai Plered 81 – Randulanang

Api di Bukit Menoreh, Agung Sedayu, Kiai Gringsing, cerita silat

“Saat ini kita sibuk melakukan usaha mengambil alih Mataram. Raden, apakah belum terlihat jalan untuk membicarakan hal penting ini dengan Panembahan Hanykrawati?”

“Sebenarnya saya memandang itu adalah hal penting. Bahkan, saya pikir kami membutuhkan waktu longgar agar membahas peralihan itu dengan leluasa.” Paras wajah Raden Atmandaru mendadak begitu datar saat ia mengucapkan kalimat itu.

Sekalipun ia berhasil menyembunyikan perubahan, tetapi Ki Sekar Tawang adalah orang yang berpandangan sangat tajam. “Seperti apa kendala yang Raden hadapi?”

“Kiai,” ucap Raden Atmandaru kemudian, “walaupun Panembahan Hanykrawati mempunyai bakat kanurgan yang tidak begitu baik, tetapi ia menyimpan kemampuan tertentu dalam menata wilayah. Kita harus mengakui kecakapannya. Mungkin sedikit lebih rendah bila dibandingkan Panembahan Senapati tetapi itu bukan alasan untuk mengabaikan wawasannya. Kita setuju mengenai hal itu. Betul?”

“Saya setuju.”

Sejenak mereka tenggelam dalam lamunan. Namun sepertinya mereka enggan mengalihkan pokok pembicaraan.

Di tengah keheningan yang mendekap Pedukuhan Randulanang, mereka berdua lantas menenggelamkan diri dalam pemusatan budi dan rasa. Mereka melewati sedikit waktu malam untuk meningkatkan kekuatan hebat yang tengah mengendap begitu tenang.

Terdengar Ki Sekar Tawang menghela napas, mengakhiri olah pernapasannya. Kemudian, sejenak ia memandang Raden Atmandaru, katanya, “Panembahan Hanykrawati tidak mempunyai daya cipta untuk mengembangkan kemampuannya. Raden mungkin akan berkelahi dengan cara-cara yang gila. Bukan berarti saya meragukan kemampuan Raden, tetapi menghadapi Panembahan Hanykrawati itu seperti bertarung dengan binatang buas yang terluka. Bisa jadi, kita harus menyiapkan jebakan bila pertemuan keras tidak dapat dihindari. Selagi kita menimbang perasaan, kita sekalian pasti gagal”

“Aku sedang pertimbangkan dua pokok masalah. Karena, salah satu jalan mungkin bisa saja mendapat halangan yang sukar dilampaui.”

“Saya mendengarkan Anda.”

Raden Atmandaru mengubah letak duduknya. Sedikit bergeser dengan sikap tubuh yang mengesankan persiapan tempur, tombak pendek yang berada di pangkuannya terlihat menggelepar. Perlahan-lahan ia mengeluarkan tombak keramat Mataram dari selongsong berupa kain berwarna putih. Di sela ruang di dalam pikirannya, Raden Atmandaru melihat dirinya berjalan beriringan dengan pengikutnya melintasi Kali Opak, menuruni lembah dan jalan-jalan setapak. Sejenak kemudian terlihat hembus uap putih ketika ia menghela napas panjang. Lalu ucapnya lirih, “Perjalanan ini bukanlah tantangan, tetapi sebuah perjuangan. Hingga sekarang, aku tidak pernah mengatakan bahwa ayahku, Panembahan Senapati, adalah pembohong. Namun keputusannya dengan mengangkat Raden Mas Jolang sebagai Adipati Anom jelas menjadi kesalahan yang membuahkan akibat-akibat yang dianggap buruk oleh kebanyakan orang Mataram.”

“Bukan watak dari kebanyakan kita yang hidup di Mataram bila memberikan punggung ketika seorang ayah telah menetapkan keputusan.”

“Kiai, sungguh, sangat tipis perbedaan antara takut dan rasa hormat.” Raden Atmandaru mengatakan itu sambil mengelus tombak pendek yang telanjang.

“Apakah Raden ingin mengatakan bahwa orang-orang di sekitar Panembahan Senapati adalah sekumpulan penakut atau benar-benar orang-orang yang dipenuhi keseganan?”

Raden Atmandaru tertawa kecil. “Kiai, sebagian dari mereka tidak dapat lari dari kenyataan. Bahkan sejumlah orang mengungsi ke Pajang sebelum bergabung dengan gerakan ini. Beberapa orang lagi memilih tetap tinggal, mengamati keadaan seperti musang di tepi malam. Kawanan musang inilah yang akan menjadi kawan kita dalam gerakan ini.”

“Saya melihat api unggun menyala di sebelah luar sebuah pemukiman.”

“Apakah itu?”

Ki Sekar Tawang beringsut, lalu menghadapkan penuh wajahnya pada Raden Atmandaru. “Boleh jadi itu adalah pertanda agar kita segera bersiap untuk menyerbu Mataram.”

“Apakah Kiai sudah mempunyai rencana waktu?”

“Banyak yang harus saya amati terlebih dulu, Raden. Bila kita mengurai satu demi satu, barangkali kita akan dapat mendekati kebenaran tentang keadaan sesungguhnya di dalam keraton.”

“Dan salah satunya adalah mereka kebingungan ketika tombak ini tidak lagi berada di dalam bangsal pusaka,” kata Raden Atmandaru disertai senyum kemenangan.

Namun wajah Ki Sekar Tawang tiba-tiba berubah menjadi dingin. Tatap matanya seperti melihat tebing sangat curam di hadapannya. Dengan suara bergetar, katanya, “Kalau tiba saatnya, kita harus pergi dari tempat ini.”

Sambil mengerutkan kening, Rden Atmandaru bertanya, “Adakah sesuatu yang salah di Sangkal Putung atau yang terlewatkan oleh kita? Kiai, apakah Anda tengah membicarakan kekalahan?”

“Bukan begitu maksud saya, Raden. Maafkan saya bila Raden keliru memahami ucapan saya. Mari kita lihat ke belakang, ketika Raden menyusun segala sesuatu dengan sangat rapi. Sewaktu Raden mengumpulkan orang-orang di Pedukuhan Dawang dan seluruh persiapan ini, apakah Mataram tidak mempunyai mata dan telinga?”

“Ya, aku mendengarkanmu.”

“Saya tidak mengatakan bahwa rencana dan gerakan Raden begitu sempurna, tetapi apakah orang-orang kita masih waspada?”

“Bila hal buruk benar terjadi pada malam ini, Randulanang akan menjadi lapisan pertama. Aku ingin Kiai  mengawasi Agung Sedayu bila ia cukup berani meninggalkan pedukuhan induk. Dan jika ada perihal buruk yang aku khawatirkan adalah kehadiran Ki Patih Mandraka di Sangkal Putung. Prajurit kita telah cukup baik melakukan penjagaan dan pengawasan di sekitar Sangkal Putung hingga sejauh ini. Namun, Agung Sedayu dapat saja memperbuat sesuatu yang tidak terduga. Walau demikian, saya dan Anda belum mendengar berita mengejutkan selain keadaan di Jagaprayan. Putri tunggal Ki Gede Menoreh belum bertemu dengan salah satu yang terbaik dari kita.”

“Bukankah Raden memang berencana bahwa Jagaprayan hanya pengalih perhatian saja?”

“Itulah sebab dari alasanku dengan tidak mengirim Mangesthi atau Ki Tunggul Pitu ke sana. Kiai, saya sedang menghitung hari dan beradu cepat, mana yang lebih dulu datang? Perburuan di Alas Krapyak ataukah kejatuhan Sangkal Putung?”

Yang Senapas

5 comments

gembleh May 29, 2021 at 10:15 pm
Reply
gembleh May 29, 2021 at 10:17 pm

Matyrnuwun

Reply
kibanjarasman May 30, 2021 at 11:03 am

sami-sami ki..

Reply
Merebut Mataram 5 - Padepokan Witasem June 22, 2021 at 2:13 pm

[…] “Bukan watak dari kebanyakan kita yang hidup di Mataram bila memberikan punggung ketika seorang ayah telah menetapkan keputusan.” Kiai Plered – 81 […]

Reply
Merebut Mataram 5 - SuaraKawan.com October 11, 2021 at 11:36 am

[…] “Bukan watak dari kebanyakan kita yang hidup di Mataram bila memberikan punggung ketika seorang ayah telah menetapkan keputusan.” Kiai Plered – 81 […]

Reply

Leave a Comment